Menhaj Lepas Musrif Diny ke Tanah Suci, Perkuat Sukses Ritual Haji Jemaah Indonesia 1447 H

Haji419 Dilihat

Tangerang – Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Moch. Irfan Yusuf, resmi melepas keberangkatan Musrif Diny menuju Tanah Suci di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Selasa (12/5/2026). Keberangkatan para pembimbing ibadah ini menjadi bagian penting dalam penguatan layanan manasik dan pendampingan jemaah pada penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M.

Dalam arahannya, Menteri Haji dan Umrah menegaskan bahwa Musrif Diny memegang peran strategis sebagai konsultan ibadah yang bertugas memastikan jemaah memperoleh bimbingan manasik secara benar, sahih, dan menenangkan selama menjalani seluruh rangkaian ibadah di Tanah Suci.

“Musrif Diny bukan sekadar pendamping ibadah, tetapi penjaga kualitas manasik jemaah. Mereka memiliki tugas mulia untuk memastikan ibadah haji dilaksanakan secara sahih, tertib, dan tetap memberi kemudahan bagi jemaah sesuai prinsip syariat,” ujar Irfan Yusuf.

Menurutnya, keberadaan Musrif Diny menjadi bagian penting dalam mewujudkan konsep Tri Sukses Haji, khususnya pada aspek sukses ritual. Selain sukses ritual, pemerintah juga menargetkan sukses ekosistem ekonomi haji serta sukses peradaban dan keadaban dalam penyelenggaraan ibadah haji Indonesia.

Karena itu, Musrif Diny diharapkan tidak hanya memahami aspek teknis manasik, tetapi juga mampu memberikan bimbingan yang mencerahkan, menenteramkan, serta memperkuat kesadaran spiritual jemaah.

“Dalam Tri Sukses Haji, Musrif Diny berada di garda penting untuk memastikan sukses ritual. Mereka bertugas menjaga kesucian ibadah, membimbing manasik secara sahih, serta memastikan jemaah memahami kemudahan-kemudahan syariat tanpa kehilangan makna spiritual haji,” katanya.

Penguatan Fikih Kemudahan bagi Jemaah Haji

Menhaj juga menekankan pentingnya penguatan pemahaman fiqh taisir atau fikih kemudahan dalam layanan bimbingan ibadah. Hal ini dinilai krusial mengingat karakteristik jemaah haji Indonesia yang sangat beragam, mulai dari jemaah lanjut usia (lansia), jemaah dengan keterbatasan fisik, hingga mereka yang menghadapi kondisi darurat di lapangan.

“Jemaah kita tidak semuanya berada dalam kondisi fisik yang sama. Ada lansia, ada yang memiliki keterbatasan kesehatan, dan ada situasi lapangan yang membutuhkan keputusan cepat. Di sinilah Musrif Diny harus hadir dengan pemahaman fikih yang kokoh, tetapi tetap adaptif dan memberi solusi,” tegasnya.

Sejumlah skema layanan ibadah seperti Safari Wukuf Khusus, Murur di Muzdalifah, dan Tanazul di Mina, lanjutnya, membutuhkan pendampingan kuat dari pembimbing ibadah agar dapat dipahami jemaah secara benar dan tidak menimbulkan keraguan dalam pelaksanaan ibadah.

“Safari Wukuf, Murur, maupun Tanazul bukan sekadar pengaturan teknis. Di dalamnya ada landasan fikih yang harus dipahami dan disampaikan dengan baik kepada jemaah. Musrif Diny harus menjadi rujukan yang menenteramkan,” ujarnya.

Menhaj Minta Musrif Diny Layani Jemaah dengan Ilmu dan Hati

Dalam pesannya, Menhaj meminta para Musrif Diny menjaga integritas, kesabaran, dan keikhlasan selama bertugas di Tanah Suci. Mereka juga diharapkan hadir lebih dekat dengan jemaah, mampu menjawab persoalan ibadah berbasis keilmuan, sekaligus menjadi bagian dari penguatan layanan haji Indonesia yang semakin ramah, profesional, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

“Kami berharap para Musrif Diny menjadi penguat layanan ibadah di Tanah Suci. Bimbinglah jemaah dengan ilmu, layani dengan hati, dan jadikan setiap pendampingan sebagai bagian dari pengabdian kepada umat,” tandasnya.

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Sahabat Haji

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *