Kemenhaj Matangkan Skema Armuzna 2026, Jemaah Haji Diimbau Disiplin Jadwal dan Hemat Tenaga Jelang Puncak Haji

Haji498 Dilihat

Jakarta — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mematangkan skema pergerakan jemaah pada fase puncak ibadah haji atau Armuzna yang meliputi Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Langkah ini dilakukan untuk memastikan pelayanan, pelindungan, serta mobilitas jemaah berjalan aman, tertib, dan terkendali selama fase paling krusial dalam penyelenggaraan haji.

Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Maria Assegaff, mengatakan fase Armuzna merupakan inti ibadah haji yang membutuhkan pengelolaan mobilitas secara ketat karena melibatkan jutaan jemaah dalam waktu dan ruang yang terbatas.

“Karena itu, pengaturan mobilitas, disiplin jadwal, kepatuhan terhadap arahan petugas, dan kesiapan fisik jemaah menjadi sangat penting. Kemenhaj telah membentuk Satuan Operasional Armuzna untuk memastikan pergerakan jemaah berjalan bertahap, terukur, dan berbasis mitigasi kepadatan,” ujar Maria di Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Hingga hari ke-29 operasional haji 1447 H/2026 M, sebanyak 481 kelompok terbang (kloter) dengan total 186.041 jemaah dan 1.919 petugas telah diberangkatkan menuju Arab Saudi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 472 kloter dengan 182.332 jemaah dan 1.888 petugas telah tiba di Makkah.

Sementara itu, kedatangan jemaah gelombang kedua melalui Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, tercatat mencapai 208 kloter dengan 79.945 jemaah dan 832 petugas. Adapun jumlah jemaah haji khusus yang telah tiba di Arab Saudi mencapai 13.180 orang.

Maria menjelaskan, proses pergerakan jemaah dari Makkah menuju Arafah akan dimulai pada 8 Dzulhijjah 1447 H atau Senin, 25 Mei 2026, secara bertahap dalam tiga gelombang, yakni pukul 06.00, 11.30, dan 17.30 Waktu Arab Saudi (WAS). Seluruh jemaah ditargetkan telah diberangkatkan menuju Arafah sebelum pukul 24.00 WAS.

“Kami mengimbau jemaah tidak berada di lobi hotel sebelum jadwal keberangkatan agar tidak terjadi penumpukan. Tetap bersama rombongan, bawa perlengkapan secukupnya, selalu membawa identitas, dan jaga kondisi tubuh,” katanya.

Pelaksanaan wukuf di Arafah dijadwalkan berlangsung pada 9 Dzulhijjah atau Selasa, 26 Mei 2026, pukul 10.00 hingga 13.00 WAS. Selepas magrib, jemaah akan diberangkatkan menuju Muzdalifah mulai pukul 19.00 WAS. Khusus jemaah dengan skema murur, perjalanan akan langsung dilanjutkan menuju Mina tanpa turun di Muzdalifah.

Sementara itu, pergerakan jemaah nonmurur dari Muzdalifah menuju Mina dijadwalkan berlangsung mulai pukul 23.00 WAS hingga pukul 07.00 WAS pada 10 Dzulhijjah. Setibanya di Mina, jemaah akan melaksanakan lontar jumrah Aqabah mulai pukul 10.00 WAS sebelum kembali ke tenda untuk mabit.

Maria menegaskan jemaah tidak perlu memaksakan diri apabila kondisi kesehatan tidak memungkinkan mengikuti seluruh aktivitas secara normal.

“Jangan memaksakan diri apabila kondisi kesehatan tidak memungkinkan. Syariat memberikan keringanan melalui mekanisme badal lontar bagi jemaah yang memiliki uzur,” tegasnya.

Pada 11 hingga 13 Dzulhijjah, jemaah dijadwalkan menjalani mabit di Mina dan melaksanakan lontar jumrah Aqabah, Ula, dan Wustha sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Jemaah dengan skema nafar awal ditargetkan menyelesaikan rangkaian ibadah pada 12 Dzulhijjah, sementara nafar tsani pada 13 Dzulhijjah.

Menurut Maria, keberhasilan fase Armuzna tidak hanya ditentukan kesiapan petugas, tetapi juga kedisiplinan seluruh jemaah dalam mengikuti aturan dan jadwal yang telah ditetapkan.

“Patuhi jadwal, ikuti arahan resmi, jangan bepergian sendiri, jaga kekompakan, dan hemat tenaga menuju puncak haji. Kemenhaj akan terus melakukan monitoring 24 jam untuk memastikan layanan kesehatan, transportasi, konsumsi, dan mitigasi kepadatan berjalan optimal,” tutup Maria.

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Sahabat Haji

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *