Jelang Puncak Haji, Komnas Haji Serukan “Jemaah Jaga Jemaah”

Haji493 Dilihat

Makkah — Pergerakan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) resmi dimulai pada Senin (25/5/2026) atau 8 Dzulhijjah 1447 Hijriah. Jemaah haji Indonesia mulai dimobilisasi secara bertahap dari hotel-hotel di Makkah menuju Arafah untuk menjalani wukuf pada Selasa (26/5/2026), yang menjadi puncak pelaksanaan ibadah haji.

Ketua Komnas Haji, Dr. H. Mustolih Siradj SHI., MH., mengingatkan pentingnya kewaspadaan selama fase Armuzna, terutama terhadap potensi jemaah hilang atau tersesat akibat tingginya mobilitas jutaan orang di lokasi ibadah.

Menurut Mustolih, lebih dari 1,6 juta jemaah dari berbagai negara akan berkumpul di kawasan Armuzna dengan agenda ibadah yang padat dan berlangsung dalam waktu berdekatan. Setelah menjalani wukuf di Arafah, jemaah akan bergerak ke Muzdalifah untuk mabit (bermalam), lalu menuju Mina guna melaksanakan lontar jumrah Aqabah, Ula, dan Wustha pada 10–12 Dzulhijjah.

Di sela rangkaian tersebut, jemaah juga harus kembali ke Makkah untuk menunaikan tawaf ifadah, sai, dan tahallul.

“Rangkaian ibadah di Armuzna sangat menguras tenaga karena melibatkan perpindahan lokasi yang panjang dan simultan. Kondisi ini dapat memicu kelelahan, menurunkan konsentrasi, hingga menyebabkan jemaah terpisah dari rombongan, terutama bagi lansia dan penyandang disabilitas,” ujar Mustolih dalam rilis Komnas Haji, Senin (25/5/2026).

Ia menjelaskan, situasi di Armuzna yang dipenuhi jutaan jemaah dengan pakaian ihram seragam berwarna putih serta tenda-tenda yang tampak serupa sering kali membuat jemaah kesulitan mengenali rombongan maupun lokasi tempat istirahatnya. Tantangan tersebut diperberat dengan suhu udara ekstrem yang diperkirakan dapat mendekati 50 derajat Celsius.

Karena itu, Komnas Haji menekankan pentingnya solidaritas antarsesama jemaah dengan mengedepankan semangat ta’awun atau saling membantu melalui gerakan “Jemaah Jaga Jemaah”.

Mustolih menilai, semangat kebersamaan di tingkat kelompok akan sangat membantu meminimalisasi risiko jemaah tersesat atau terpisah dari rombongan tanpa harus sepenuhnya bergantung pada petugas haji.

“Dibutuhkan kekompakan dan solidaritas di kalangan jemaah agar tetap solid, saling membantu, dan saling menjaga selama pergerakan di Armuzna. Peran ketua rombongan (karom) dan ketua regu (karu) juga menjadi sangat sentral dan vital,” katanya.

Komnas Haji optimistis penyelenggaraan puncak haji di Armuzna tahun ini dapat berjalan aman, tertib, dan lancar apabila seluruh unsur jemaah dan petugas menjaga koordinasi serta kebersamaan selama menjalankan rangkaian ibadah.

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Sahabat Haji

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *