Evaluasi KKHI Madinah, Menhaj Siapkan Transformasi Layanan Kesehatan Haji yang Lebih Efektif

Haji399 Dilihat

Madinah – Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf, meninjau Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah untuk memastikan kesiapan layanan kesehatan menjelang kedatangan jemaah haji gelombang kedua dari Makkah.

Menhaj menilai layanan kesehatan bagi jemaah berjalan baik. Namun, ia menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap model pelayanan kesehatan haji Indonesia agar lebih efektif, efisien, dan mampu beradaptasi dengan regulasi Arab Saudi yang terus berkembang.

“Hari ini saya melihat langsung kesiapan KKHI Madinah dalam menyambut jemaah dari Makkah. Secara umum sudah siap, tetapi model pelayanan kesehatan yang kita gunakan perlu dievaluasi untuk menjawab tantangan ke depan,” ujar Menhaj.

Menurutnya, fasilitas KKHI yang ada saat ini memiliki kapasitas besar, namun pemanfaatannya perlu ditinjau kembali agar lebih optimal. Evaluasi tersebut akan menjadi bagian dari pembahasan pemerintah setelah penyelenggaraan haji tahun ini berakhir.

“Kita ingin memastikan setiap sumber daya yang tersedia benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi jemaah,” katanya, saat berada di KKHI Madinah, Kamis (4/6/2026).

Menhaj juga menyoroti pentingnya penyesuaian terhadap regulasi kesehatan Arab Saudi yang terus mengalami perubahan. Karena itu, sistem pelayanan kesehatan haji Indonesia harus mampu beradaptasi agar tetap relevan dan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Regulasi di Arab Saudi terus berkembang. Kita tidak bisa hanya mengandalkan pola pelayanan yang sama dari tahun ke tahun. Harus ada penyesuaian agar layanan tetap optimal,” ujarnya.

Selain itu, kebutuhan tenaga kesehatan menjadi perhatian penting. Dengan jumlah jemaah Indonesia yang mencapai lebih dari 200 ribu orang setiap tahun, diperlukan perencanaan yang matang untuk memastikan ketersediaan tenaga medis yang memadai.

Menhaj menegaskan bahwa peningkatan layanan kesehatan harus berjalan seiring dengan penerapan prinsip istitha’ah kesehatan. Tahun ini, sebanyak 345 calon jemaah haji tidakdiberangkatkan karena tidak memenuhi syarat kesehatan.

“Prinsip istithaah harus tetap ditegakkan demi keselamatan jemaah. Di sisi lain, kualitas layanan kesehatan bagi mereka yang berangkat juga harus terus ditingkatkan,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Kesehatan PPIH Daerah Kerja Madinah, dr. Enny Nuryanti, menjelaskan bahwa KKHI Madinah beroperasi 24 jam untuk melayani kebutuhan kesehatan jemaah. Kasus yang paling banyak ditangani adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan hipertensi.

Selain KKHI, layanan kesehatan juga diperkuat melalui Untuk jemaah haji Indonesia, terdapat 5 klinik satelit yang disiagakan di wilayah Madinah. Kelima klinik satelit ini tersebar di 5 sektor wilayah Daerah Kerja (Daker) Madinah untuk melayani jemaah yang menginap di hotel-hotel sekitar Masjid Nabawi. Seluruh layanan didukung tenaga dokter, perawat, tenaga farmasi, laboratorium, dan sanitasi yang siaga selama musim haji.

Menurut Enny, KKHI memberikan layanan rawat jalan, sedangkan jemaah yang membutuhkan penanganan lanjutan atau mengalami kondisi darurat akan dirujuk ke rumah sakit Arab Saudi.

Menjelang kedatangan jemaah gelombang kedua
ke Madinah, Kementerian Haji dan Umrah memastikan seluruh layanan kesehatan diperkuat, terutama bagi jemaah yang baru menyelesaikan rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

“Jemaah yang baru menyelesaikan fase Armuzna menjadi kelompok yang paling membutuhkan perhatian. Karena itu, kesiapan layanan kesehatan harus benar-benar terjaga hingga mereka kembali ke Tanah Air,” pungkas Menhaj.

Cek berita dan artikel menarik lainnya di Google News Sahabat Haji

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *